Guruku Galau, antara Pengawas dan Permen 41

Galau, ternyata tidak cuman kawula muda saja yang bisa mengalaminya, guru-guru kita pun banyak yang berada pada posisi galau. Seperti makna katanya, galau, yang berarti resah atau bingung, hal itu pulalah yang dirasakan oleh guru-guru kita. Kegalauan yang saya cermati dalam tulisan ini adalah dalam konteks sederhana penyusunan perangkat pembelajaran. Guru mengalami dilema antara mengikuti permintaan pengawas sekolah atau mengikuti aturan baku yang sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Replublik Indonesia No 41 Tahun 2007 (Permen Diknas No 41 Tahun 2007). Dan, mungkin perlu dicatat pula bahwa pengawas sekolah yang saya maksud bukanlah semua pengawas sekolah, akan tetapi ada “pengawas” yang mungkin memiliki penafsiran berbeda dalam menerjemahkan makna dari Permen Diknas No 41 Tahun 2007.

Seorang guru haruslah memiliki seperangkat administrasi pembelajaran standar yang terdiri atas Pemetaan Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar, Program Tahunan, Program Semester, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dan semua hal ini cara penyusunannya sudah diatur dalam Permen Diknas No 41 Tahun 2007.  Perangkat pembelajaran ini seharusnya sudah siap sebelum proses pembelajaran berlangsung, yang berarti di awal tahun pembelajaran. Dalam menyiapkan perangkat ini, bisa dilakukan bersama-sama dengan rekan serumpun (satu bidang study), bisa juga dengan mengadakan workshop bersama penyusunan perangkat pembelajaran, yang difasilitasi oleh pihak sekolah.

Nah, di tempat saya bertugas (saya seorang guru :-D ), rutin setiap awal tahun pelajaran diadakan workshop penyusunan perangkat pembelajaran. Dalam workshop akan dibahas mengenai isu-isu pendidikan terbaru dan pembaharuan format perangkat pembelajaran. Biasanya selama kegiatan workshop ini, akan di undang narasumber-narasumber terkait. Dalam hal ini karena pengawas sekolah yang lebih dekat dan mengenal lingkungan sekolah yang lebih sering di undang. Pada suatu kegiatan workshop, saya melihat ada perbedaan penafsiran antara pengawas dan saya. Saat penyusunan Pemetaan Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar, narasumber menjelaskan bahwa setiap masuk ke Standar Kompetensi baru itu harus dimulai dari level kognitif  yg paling rendah. Padahal siswa yang saya ajar adalah siswa SMA, yang tentunya level kognitifnya tidak sekedar mengetahui, tapi sudah pada tahap memahami dan menganalisis. Sesuai dengan apa yg tertuang di Permen 41, bahwa guru haruslah memperhatikan dan menyesuaikan antara level siswa dan standar kompetensi lulusan yang diharapkan. Jika saya setiap awal Standar Kompetensi mulai dari level kognitif “mengetahui”, kapankah siswa saya bisa memenuhi standar kelulusan SMA yang lebih banyak “menganalisis”?

Selanjutnya, ada rekan saya yang sudah mengikuti PLPG, yaitu pelatihan profesi guru bagi guru yang akan tersertifikasi. Rekan saya ini menyatakan bahwa format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang di dapatkan pada saat pelatihan (pelatihan diadakan di kampus Universitas Pendidikan Ganesha, dan diberikan langsung oleh dosen kampus tersebut), berbeda dengan format yang diberikan oleh pengawas. Nah, yang membuat saya senyum mesem-mesem adalah respon dari nara sumber yang mengatakan “Bapak/Ibu, saat bapak mengikuti PLPG, ikutilah apa kata dosen Bapak/Ibu, saat Bapak/Ibu kembali ke sekolah, ikutilah format yang kami berikan.”

Nah lo, jawaban seperti ini tidak membuka peluang diskusi untuk menemukan jalan tengah. Padahal baik apa yang saya pahami, apa yang diberikan dosen PLPG, apa yang diberikan pengawas itu bersumber pada satu hal, yaitu Permen Diknas No 41 Tahun 2007. Menurut saya yang terjadi hanya perbedaan interpretasi dari apa yang tertuang dalam Permen tersebut. Bukankah workshop ini sarana diskusi, bukannya ajang memaksakan pendapat satu pihak? Hemmm… pantaslah guruku galau, galau antara mengikuti kata pengawas atau permen 41.

Apa yang saya lakukan? Karena saya tidak mau ikut-ikutan galau, jadi saya mengikuti kata hati, mengikuti format baku yang sudah diberikan dalam Permen Diknas No 41 Tahun 2007. Disalahkan oleh pengawas, itu tidak masalah. Kan hanya satu orang yang menyalahkan, masih banyak kok pengawas lain yang membenarkan, Permen 41 saja membenarkan.😀

Ini sekedar rasa tidak nyaman kecil yang saya alami selaku guru. Padahal yang saya inginkan hanyalah diskusi dan temukan solusi terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s